Bonefacius Gebze, Panen Terung di Tengah Cuaca Panas & Ekstrim

Zanegi, 16 Desember 2023,- Di tengah tantangan cuaca panas yang ekstrim dan kesulitan air yang melanda, Bapak Bonefacius Gebze, yang akrab disapa Bon Gebze, mampu membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras adalah kunci kesuksesan. Hari ini, di lahan pekarangan rumahnya di Kampung Zanegi, Bapa Bon Gebze bersama keluarga menuai panenan melimpah hasil dari jerih payah dan kerja keras mereka.

Ketika Perkumpulan Vertenten berkunjung ke Kampung Zanegi (15/12), Bapa Bon dan istri serta anak-anaknya sedang memanen buah terung di kebun belakang rumahnya.  Lahan pekarangan yang sebelumnya hanya merupakan tanah kosong kini dipenuhi berbagai tanaman pangan, tidak hanya terung.

Tanaman yang tumbuh subur di lahan pekarangan ini meliputi ubi, pisang, papaya, nenas, patatas, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Untuk memperluas produksi pertanian, Bapa Bon Gebze menanam ubi kayu, keladi, dan patatas. Panen yang melimpah ini juga berkat dukungan dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat dan Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua yang pada bulan Juli lalu, telah memberikan bantuan bibit sukun goreng, mangga arum manis, jambu, serta sayuran untuk mendukung diversifikasi tanaman dan pemupukan lahan.

Bapa Bon Gebze dan keluarga bukan hanya petani, tetapi pionir dalam mengubah lahan terbatas menjadi lahan subur yang produktif. Keberhasilan ini juga memberikan inspirasi bagi warga sekitar untuk tetap bersemangat dan bekerja keras menghadapi tantangan alam dan sosial.

Dengan sikap pantang menyerah dan semangat juang yang tinggi, Bapa Bon Gebze dan keluarga telah membuktikan bahwa di tengah segala kesulitan, pertanian di pekarangan rumah bisa menjadi jawaban untuk meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan di komunitas lokal.

Apa yang ditunjukkan Bapa Bon dan keluarganya adalah wujud dari konsep dasar kedaulatan pangan yang disebut Michael Windfuhr dan Jennie Jonsen dalam buku mereka ‘Food Sovereignty: Towards Democracy in Localized Food System‘, yang oleh Roem Topatimasang intinya diringkas menjadi ’empat sokoguru kedaulatan pangan’ (four pilars of food sovereignty) sebagai berikut:

[1] Penegasan hak atas pangan -rights to food – yang tidak hanya terbatas pada akses memperoleh bahan pangan, tetapi juga akses untuk memproduksi pangan sendiri dengan segenap prasarana dan kelembagaannya

[2] sehingga perlunya penegasan mutlak akses pada semua sumber-sumber produktif — acces to productive resources –(lahan, air, benih, dan sebagainya) yang memang memungkinkan semua orang dan kelompok masyarakat memproduksi bahan pangan sendiri

[3] sehingga perlunya penegasan tentang kebijakan resmi bagi perlindungan dan pengembangan atas berbagai prakarsa ‘sistem pangan lokal’ yang berbasis agroekologi –mainstreaming agroecological production, dan

[4] sebagai akibat logisnya, perlunya memajukan sistem distribusi pangan yang bertumpu pada jaringan ‘perdagangan dan pasar lokal’ — promotion of trade and local markets — terutama untuk membendung semua dampak merusak dari sistem pasar bebas selama ini yang hanya menguntungkan industri pangan raksasa.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *