Oleh Hendrik J. Tanjai**
Merauke, 1 Oktober 2023 – Hari yang bersejarah tiba di Merauke, Papua Selatan, ketika Bupati Merauke memimpin rombongan untuk membuka Festival Kalimaro Pantai Arafura. Acara spektakuler ini berlangsung di Dusun Yonggo Sirapu, Distrik Semangga, dan menjadi penanda kebangkitan budaya Suku Marind dan Suku Yei dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Opening ceremony festival ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Asisten 1 Provinsi Papua Selatan, Ketua PKK Kabupaten Merauke, Sekretaris Keuskupan Agung Merauke Pastor John Kandam Pr., Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Merauke, serta perwakilan TNI-Polri. Acara ini juga disaksikan oleh masyarakat Marind dan Yeinan, serta para pelajar dan generasi milenial yang turut meramaikan festival ini.
Upacara pembukaan dimulai dengan pemotongan pita sagu oleh Bupati Merauke, yang merupakan simbol dari persatuan Marind dan Yeinan. Peristiwa ini menandai dimulainya Festival Kali Maro, yang menghadirkan kekayaan budaya, tradisi, seni, kuliner lokal, dan lagu-lagu dari Suku Yeinan dan Suku Marind.
Salah satu sorotan terbesar dalam festival ini adalah penjemputan dua perahu kasta Yeinan yang tiba di Pelabuhan Yonggo pada 1 Oktober pukul 13.25 WIT. Kedua perahu, yakni Naak-Talle, disambut meriah oleh peserta festival dan masyarakat setempat dengan tari tradisional Suku Yeinan. Perjalanan mereka selama tiga hari ini dimulai dari Kampung Kweel, Distrik Elikobel, dan dikelola oleh anak asli Suku Yeinan bernama Sergius Bajai serta enam orang tua adat Suku Yeinan dari kampung-kampung Bupul, Kweel, dan Poo.
Festival Kali Maro Pantai Arafura adalah upaya untuk mengangkat kembali budaya Suku Marind dan Suku Yei, yang juga berfungsi sebagai peningkatan ekonomi daerah. Dalam konteks yang lebih luas, festival ini memainkan empat peran penting:
(1) Peningkatan Ekonomi: Festival ini menarik wisatawan mancanegara dan domestik, meningkatkan pemasaran produk lokal, serta menciptakan lapangan kerja baru.
(2) Pengembangan Budaya: Festival ini mempromosikan komunikasi antarbudaya, memperkenalkan budaya, sejarah, dan filosofi setempat, serta melestarikan budaya dan memperkuat kohesi sosial.
(3) Pengembangan Seni: Festival ini menjadi wadah bagi komunitas seni dan karya seni mereka.
(4) Pengembangan Lingkungan: Melalui festival, pemeliharaan dan penataan lingkungan juga menjadi fokus.
Festival Kalimaro Pantai Arafura berlangsung selama lima hari, dari 1 hingga 5 Oktober 2023, dan ada berbagai acara menarik. Mulai dari acara pameran UKKM lokal, misa kudus, perarakan arca Bunda Maria lewat laut, pentas seni, pameran UMKM lokal dan nasional, hingga perlombaan seperti panahan tradisional dan tari-tarian nasional.
Pada tanggal 5 Oktober, festival ditutup dengan ritual penyerahan mandat dari Suku Marind kepada Suku Yei, mencerminkan persaudaraan yang kuat antara kedua suku ini.
Festival Kali Maro Pantai Arafura adalah bukti nyata bagaimana budaya, sejarah, dan tradisi lokal dapat menjadi daya tarik wisata yang berdampak positif pada ekonomi dan masyarakat setempat. Semangat persatuan dan persaudaraan yang diusung oleh festival ini juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat NKRI. Festival ini bukan hanya acara budaya biasa, tetapi juga merupakan jalan menuju perubahan positif bagi Suku Marind, Suku Yei, dan Papua Selatan secara keseluruhan. Festival Kali Maro kedua akan berlangsung pada bulan Oktober 2024 di Kampung Bupul, Distrik Elikobel, tempat di mana Suku Yei akan bertindak sebagai tuan rumah. Festival Kali Maro tahun kedua ini akan menjadi kesempatan bagi Suku Yei untuk merayakan, memelihara, dan memperkuat budaya dan tradisi mereka. Hal ini juga akan memungkinkan pertukaran budaya yang lebih besar antara Suku Marind dan Suku Yei, serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan penguatan komunitas di wilayah Distrik Elikobel. Festival ini tidak hanya merayakan keanekaragaman budaya di Papua Selatan tetapi juga menunjukkan komitmen untuk memahami dan menghargai budaya setempat dalam bingkai NKRI.
** Penulis merupakan Ketua Dewan Paroki Santo Petrus, Bupul
