Di balik eksotik dan kekayaan alam hutan dan sungai Kampung Selil, terselip jejak kehidupan ekonomi yang menarik dan tak biasa. Selama lebih dari satu dekade, masyarakat kampung Selil telah menggeluti berbagai aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, dan menjalankan urusan pribadi dan keluarga dengan ketekunan dan bersemangat.
Perjalanan ekonomi dimulai dari Kampung Selil, mengalir menuju areal PT. BIA atau divisi-divisi untuk menjual hasil bumi dari hutan dan dari kebun-kebun warga. Namun, akses menuju ke sana tidak semudah yang dibayangkan oleh orang di luar sana. Untuk masuk dan keluar dari sana harus menggunakan sarana transportasi sungai. Perahu ketinting, belang (perahu motor), dan speedboat menjadi kendaraan utama yang membawa warga melintasi sungai dan rawa. Meski begitu, perjalanan yang memakan waktu hingga satu jam bukanlah halangan.
Tiba di Pelabuhan Lama Anida, perjalanan belum selesai. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi dengan sepeda motor ojek, menelusuri jalan setapak dan berlumpur di tengah hutan belantara yang berjarak lebih kurang 4 km. Begitu sampai di tempat tujuan, di divisi-divisi dalam areal perusahaan, kami mulai bertransaksi. Menjual hasil bumi yang kami bawa. Para pembeli utamanya adalah karyawan PT. BIA yang tinggal di barak-barak yang dibangun oleh perusahaan. Barang dagangan seperti ikan per tusuk, daging rusa, kasuari, dan babi, serta buah-buahan segar seperti rambutan, manggis, durian, dan langsat, menjadi daya tarik bagi pembeli yang adalah karyawan perusahaan.
Harga ikan dan daging serta buah-buahan dan sayuran yang dijual warga Kampung Selil terjangkau kantong para karyawan PT BIA. Misalnya harga hasil bumi yang ditawarkan kepada pembeli:
- Ikan: Rp 25.000 per tusuk (ukuran besar: 2 ekor, sedang: 3 ekor, kecil: 4 ekor)
- Daging rusa: Rp 35.000 per kg
- Daging kasuari: Rp 35.000 per kg
- Daging babi (ukuran sedang): Rp 30.000 per panggal/potong
- Rambutan: Rp 10.000 per kg
- Manggis: Rp 15.000 per kg
- Durian (besar): Rp 100.000 per 3 buah, (sedang): Rp 100.000 per 5 buah, (kecil): Rp 100.000 per 8 buah
- Langsat: Rp 35.000 per kg

Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas menjual hasil bumi ini mungkin tidak membuat kami menjadi kaya raya atau punya uang banyak, namun telah memberikan dampak positif. Pendapatan tambahan ini memungkinkan para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak dan memenuhi kebutuhan pokok seperti garam, gula, kopi, teh, beras, dan minyak. Di balik jarak yang cukup jauh dan akses yang terbatas melalui rawa-rawa dan sungai, kegiatan ekonomi ini menjadi nafas baru bagi kehidupan kami.
Hidup di kampung yang cukup terpencil dengan akses terbatas hanya melalui sungai dan rawa, kami terus bersemangat menjalani hidup kami dari hari ke hari. Kemampuan kami dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia di sekitar kami adalah bukti dari kerja keras, ketekunan, dan kearifan kami sebagai masyarakat Kampung Selil. Meski hampir sebagian wilayah adat kami telah menjadi areal konsesi perusahaan dan hutan alam kami telah dibongkar dan dijadikan perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah, tetapi kami tidak kalah menyerah untuk terus berjuang untuk bertahan hidup demi anak-cucu kami di masa depan.
Inilah suara kami, suara warga Kampung Selil, yang ingin kami bagikan kepada dunia. Meskipun mungkin terdengar sederhana, namun kehidupan kami di Kampung Selil penuh dengan cerita-cerita hidup yang penuh makna dan inspiratif.
**Clemens Yetim, Warga Kampung Selil.
