Oleh Hendrik J. Tanjai
Kali Maro, atau sungai Maro, memiliki arti historis yang mendalam bagi kawasan Merauke. Nama Merauke sendiri berasal dari frasa “maro ka ehe,” yang diterjemahkan sebagai “ini sungai Maro.” Sejarah mencatat peristiwa bersejarah yang terjadi di Kali Maro ketika empat misionaris MSC (Misionaris Hati Kudus) dari Belanda tiba di sana pada tanggal 14 Agustus 1905. Keempat misionaris tersebut adalah Pastor Henricus Nollen, Pastor Philip Braun, Bruder Dionysius Van Roessel, dan Bruder Melchior Oomen. Kedatangan mereka di Kali Maro memulai proses pertemuan antara agama Kristen dan budaya Suku Marind. Ini adalah awal dari peradaban baru, di mana ajaran Kristiani dan nilai-nilai gereja mulai mempengaruhi pola hidup dan budaya Suku Marind dan Suku Yeinan di wilayah tersebut.
Festival Kalimaro Pantai Arafura, yang digagas oleh Pastor Andreas Fanumbi, Pr., adalah upaya untuk memperingati sejarah berharga ini dan menghidupkan kembali tradisi masa lalu bagi generasi muda saat ini. Festival ini juga mengeksplorasi pengaruh dan perubahan yang telah terjadi sepanjang sejarah di kawasan tersebut, dan bagaimana nilai-nilai Kristen telah menjadi bagian integral dari budaya dan masyarakat setempat.
Pastor Andreas Fanumbi, Pr., merupakan penggagas utama festival ini dan mendukung gagasan penyelenggaraan festival sebagai bagian dari visi Tuhan. Ia memandang bahwa Suku Marind dan Suku Yeinan harus diangkat terlebih dahulu dalam konteks ini karena sejarah kota Merauke, yang berawal dari Kali Maro, secara substansial memengaruhi perkembangan budaya dan agama di wilayah tersebut. Festival Kalimaro Pantai Arafura mencerminkan semangat persatuan dan persaudaraan yang melibatkan semua lapisan masyarakat, terlepas dari latar belakang budaya dan agama mereka.
Sebagai acara tahunan, festival ini mencakup berbagai aspek budaya, sejarah, seni, dan ekonomi, yang diharapkan akan memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Dengan merayakan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal, festival ini menjadi jalan menuju pembangunan yang berkelanjutan, pelestarian budaya, dan penguatan persaudaraan di wilayah Merauke dan Papua Selatan.
