Sungai Oga sudah tidak asing lagi bagi orang Mindiptana. Apa lagi yang pernah sekolah di SMA YPPK Petrus Hoeboer Mindiptana. Sungai ini membelah Distrik Mindiptana, antara Kampung Awayanka dan Epsenbit.
Pulang sekolah, siang panas, anak sekolah pasti lompat dan molo di Kali Oga, sembari bercerita pengalaman hari kemarin. Kalau musim penghujan, kadang air sampai meluap. Jika kemarau tiba, anak laki-laki baku ajak molo (=menyelam) di dasar kali sambil cari udang dan ikan. Sementara anak perempuan cari cacing untuk pancing ikan dan udang sambil ambil sayur kepem yang banyak terdapat di sepanjang kali. Pulang ke rumah, perut pun kenyang.
Sementara orang dewasa selalu mengunakan kali ini sebagai jalur transportasi dari rumah ke kebun menggunakan perahu, sekaligus mencari ikan. Hasil tangkapan berupa ikan dan udang dapat dijual lagi untuk menambah penghasilan keluarga. Air sungai Oga yang jernih dan sejuk, tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang datang ke sana. Bahkan setiap generasi yang ada punya cerita dari masa ke masa tentang Sungai Oga ini.
Hanya saja, saat ini kami melihat sebuah fenomena yang membuat kami khawatir. Bibir sungai akhir-akhir ini sering longsor, lumpur semakin banyak, air menjadi kabur, dan ikan-ikan jadi kabur. Selain itu, ada aktivitas mencari ikan dan udang yang tidak lagi menggunakan cara tradisional, sehingga mengancam ekosistem di situ.
Ada banyak masyarakat yang mengatakan bahwa dulu kami mencari ikan menggunakan cara tradisional yaitu molo dan balobe senter malam. Tapi generasi sekarang ini su tidak tahu molo lagi. Mereka tangkap ikan dengan cara yang gampang dan cepat, yaitu pakai strum aki dan decis (sejenis insektisida untuk mengendalikan hama tanaman, tapi digunakan untuk menangkap ikan dan udang).
Dua cara tersebut sangat efektif untuk menangkap udang dan ikan. Begitu strum pakai aki ikan dan udang langsung terapung. Begitu pula dengan decis, begitu disebar ke dalam air, ikan dan udang langsung mabuk dan dengan mudah langsung ditangkap. Jadi semua ikan dan udang semua ukuran, mo besar ka kecil ka semua terangkat ke permukaan air.
Masalahnya, Dua cara yang digunakan ini selain tidak aman, namun juga berbahaya bagi lingkungan karena berpotensi mencemari sungai. Selain itu kalau ikan dan udang dikonsumsi akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Setelah dapat ikan dan udang yang ditangkap dengan dua cara ini, mereka jual lagi. Nah, ini tentu saja membahayakan orang lain lagi.
Dampak lain yang mucul adalah air sungai yang dulunya jernih sekarang jadi kabur dan kotor. Sering pula terjadi longsor di pinggir sungai, sehingga makin lama terjadi pendangkalan sungai.
Pertanyaannya kemudian, 100 tahun ke depan Sungai Oga ini akan seperti apa ya? Kalau kita anggap Sungai Oga sebagai sumber penghidupan dan jalur transportasi bagi masyarat pesisir, sa mo bilang saja: “Ko stop buang decis dan pakai aki sudah. Kalau sungai ini rusak dan tercemar ko mau dapat ikan dan udang di mana lagi?”
♥ Yohanes Nongyap | Pegiat Lingkungan, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digul
