Oleh: Agus Wassar
Di antara aliran Sungai Bian dan Sungai Mill, terdapat Kampung Selil—sebuah kampung yang tenang namun penuh kehidupan. Kampung Selil secara administratif berada dalam wilayah Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Secara geografis, kampung ini berada di wilayah perbatasan: di utara berbatasan dengan Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, di timur dengan tanah adat marga Basik-Basik, di selatan dengan Kampung Kindiki, dan di barat dengan Distrik Subur.
Kampung yang diberkahi dengan tanah yang subur ini dikenal sebagai “Kampung Buah” oleh masyarakat sekitar. Tidak berlebihan memang kalau sebutan “Kampung Buah” disematkan kepada Kampung Selil, sebab hampir setiap halaman rumah warga terdapat: pohon durian yang rindang, rambutan yang menggoda, langsat yang manis, rerumpunan pohon salak berduri, hingga pohon pinang yang tinggi menjulang. Bahkan buah lokal khas Papua seperti matoa dan sirih tumbuh subur di sini.
Buah-buahan di Kampung Selil bukan sekadar tanaman hias. Pohon buah ini adalah sumber kehidupan. Hampir semua warga memiliki kebun buah sendiri dan dikelola secara mandiri. Mulai dari membuka lahan, menanam, merawat hingga memanen, dilakukan sendiri oleh warga.
“Tuhan su kasih kampung ini tanah yang subur, jadi kita harus olah agar dapat menghasilkan sesuatu. Jangan biarkan tanah yang subur ini tinggal tanpa sentuhan,” kata Bapak Marsel Kimbuop, salah satu warga Kampung Selil, sambil menunjukkan pohon durian yang sedang berbunga di belakang rumahnya.
Musim panen tiba setiap tahun pada bulan September hingga November. Pada masa ini, suasana kampung penuh dengan buah-buahan dari ‘ujung pukul ujung‘ (Red- buah-buahan sangat melimpah). Warga memanen buah, sebagian dikonsumsi, sebagian lagi dijual ke kampung tetangga. Buah dari Selil terkenal manis dan segar—hasil dari tanah yang kaya unsur hara dan perawatan alami yang dilakukan oleh tangan-tangan penuh cinta.
Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya digarap maksimal. Hingga kini, masyarakat masih mengandalkan pengetahuan tradisional dan kerja keras. Belum banyak sentuhan dari pemerintah atau lembaga pendamping dalam hal pengolahan hasil pasca panen, peningkatan kualitas buah, maupun distribusi dan pemasaran.
“Pelatihan membuat pupuk kompos, cara merawat pohon agar berbuah lebat, atau bahkan bagaimana mengepak dan memasarkan buah ke kota—itu yang kami harapkan dari pemerintah,” ungkap Clemens Yetim, pemuda kampung Selil.
Kampung Selil telah memberi contoh bahwa ketekunan dalam mengelola dan memanfaatkan kebun tanaman buah dapat membuahkan hasil yang nyata. Namun, untuk melangkah lebih jauh, selain kerja keras dan ketekunan serta disiplin diri mereka juga membutuhkan dukungan dari pihak lain. Bila pengolahan hasil pasca panen serta promosi dan distribusi dilakukan dengan baik dan benar, bukan tidak mungkin suatu saat nanti buah-buahan dari Selil akan dikenal luas, bahkan sampai ke kota-kota lain di Papua atau bahkan di Indonesia.
Tanah yang subur adalah berkat, tapi akan menjadi berkat yang berkelimpahan jika diolah dan dimanfaatkan secara berkelanjutan dan berkeadilan demi kesejahteraan keluarga dan masyarakat lainnya. Warga Kampung Selil telah memulai langkah kecil itu, tetapi memiliki dampak besar bagi kemajuan mereka dan pertumbuhan ekonomi kampungnya. Kini saatnya kolaborasi dilakukan — antara warga masyarakat, pemerintah, lembaga adat, gereja dan pihak-pihak terkait lainnya — agar produk buah-buahan dari kebun warga di Kampung Selil tak hanya dinikmati oleh mereka sendiri, tapi juga menjadi kebanggaan dan sumber kesejahteraan bersama.
Penulis Agus Wassar adalah seorang guru sekaligus Kepala Sekolah SD Inpres Selil, Distrik Ulilin, Kab. Merauke. Tulisan ini adalah tugas yang diberikan fasilitator kepada para Peserta Pelatihan Penulisan Cerita Kampung/Etnografi yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua dari tanggal 17 – 22 Februari 2025 di Vertenten Center
