Pagi itu Agus baru bangun pagi. Matahari baru saja menampakkan wajahnya. Di depan pintu rumah telah tergantung seekor ikan kakap segar berukuran cukup besar. Agus tidak tahu siapa yang pagi-pagi sudah taruh ikan segar di situ. Ikan ini kemudian diolah Agus untuk jadi santapannya hari itu.
Agustinus S. Wassar, adalah seorang guru yang bertugas di SD Inpres Selil, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke. Pria 31 tahun, merupakan tamatan Kolose Pendidikan Guru (KPG) Khas Papua dan melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Pemandangan ikan kakap segar yang tergantung di depan rumah guru tersebut hampir setiap saat ia alami. Di lain waktu, tergantung paha babi berukuran cukup besar, atau daging rusa, kasuari, dan berbagai buah-buahan. Seringkali Agus tidak tahu siapa yang mengantarinya bahan makanan tersebut. Ia baru tahu ketika akan ke sekolah, bertemu dengan warga dan mereka memberitahunya kalau si A atau si B yang tadi “su taruh” daging atau ikan di depan pintu rumah.

Agus sangat dicintai warga Kampung Selil. Bagi mereka, Agus adalah secercah harapan yang akan membawa anak-anak mereka menuju masa depan yang cerah. Perlakuan dan penerimaan warga yang hangat dan bersahabat ini tentu saja membuat Agus tersentuh.
Agus pertama kali menginjakkan kaki di Selil awal November 2021 selepas mengikuti Diklatsar CPNS. Sampai di tempat tugas Agus kaget. Jumlah siswa yang ada ‘hanya’ 21 orang. Bahkan di kelas 6 berjumlah 2 orang. Ada 3 ruang kelas yang disekat menjadi 6 ruang kelas. Rata-rata anak-anak masih kesulitan untuk baca, tulis, dan hitung. Rumah guru yang ia tinggali rupanya sudah tidak ditempati selama beberapa tahun, sehingga Agus harus bersih-bersih sebelum tinggal. Belum lagi Agus yang terbiasa dengan lingkungan kehidupan kota yang semua serba tersedia, tentu sedikit kaget dengan kondisi di kampung.
Pelan tapi pasti, Agus mulai menyesuaikan dengan situasi di kampung. Ia tidak pernah mengeluh. Setiap hari mengajar anak-anak di sekolah, bersama dengan 2 orang guru honor, Pak Timo dan Ibu Mathilda, serta 2 orang guru CPNS yang akan segera bergabung bersamanya. Kegiatan belajar mengajar tidak melulu di dalam ruang kelas namun juga di alam sekitar. Ia juga mengajari anak-anak dasar-dasar pramuka, sebuah keterampilan yang selama ini belum pernah dipelajari oleh anak-anak di Kampung Selil.
Akses Menuju Selil Hanya Menggunakan Perahu
Akses menuju Selil juga tidak mudah karena hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai menggunakan speedboat atau perahu, yang oleh warga Selil disebut pok-pok. Untuk ke Selil bisa lewat belakang Gereja Katolik lama yang berada di Kampung Muting, atau lewat BIO 1.
Dari Muting, saat musim penghujan menggunakan speedboat bermesin 40 PK waktu tempuh bisa 2 jam. Hal ini karena banyak jalan potong. Jika menggunakan pok-pok bermesin katinting waktu tempuhnya bisa 3-4 jam. Lain cerita kalau musim kemarau, harus mengikuti alur Sungai Mbiyan yang berkelok-kelok, menggunakan speedboat memakan waktu 5-6 jam. Kalau katinting bisa 8 jam perjalanan.
Jalur lain lewat BIO 1. Sebelumnya dari Divisi 4 ujung lahan sawit Estate A PT. BIA. Setelah itu jalan kaki sejauh kurang lebih 2 KM sampai dermaga. Dari situ lanjut pakai pok-pok selama 1 jam sampai di Kampung Selil.
Kampung Selil sendiri adalah sebuah kampung di ujung Kabupaten Merauke yang secara administrasi masuk ke dalam Distrik Ulilin, berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel. Masyarakat yang tinggal di Kampung Selil adalah orang Suku Wambon Tekamerop. Karena letaknya, Kampung Selil ini bisa dibilang salah satu kampung paling ujung dari Kabupaten Merauke, karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Boven Digoel.
Fokus Ajari Calistung
Agus bilang ia belum bisa mengajar anak-anak berdasarkan tuntutan kurikulum, karena pasti akan sangat berat. Fokusnya saat ini adalah membaca, menulis, dan berhitung, terutama untuk kelas 1 – 3, juga dasar-dasar Pancasila. Kelas 4 – 6 baru mulai ia ajari ajarkan pelajaran tambahan lain seperti perkalian, pembagian, KPK, FPK, geografi, sejarah, dan pengetahuan umum lainnya. Fokus utama Agus juga pada 2 orang siswa kelas 6 yang tahun depan akan mengikuti ujian nasional. Ia mempersiapkan mereka agar dapat lulus dengan baik, bukan diluluskan dan dapat bersaing ketika melanjutkan studinya ke SMP.
Belajar Bahasa Wambon

Selama tinggal dan mengabdi di Selil, Agus juga mempelajari Bahasa lokal, terutama percakapan sehari-hari. Ia juga mencatatnya dan terus memperbanyak kosa katanya. Pengetahuannya tentang bahasa lokal ini juga ia terapkan di sekolah sebagai bagian dari muatan lokal.
Apa yang diterapkan Agus rupanya munjarab. Anak-anak didiknya lebih cepat menyerap materi calistung yang ia ajarkan. Ia juga meminta bantuan beberapa orang tua untuk menerjemahkan lagu-lagu untuk diajari di sekolah, seperti lagu potong bebek angsa, sayang semuanya, dan lain-lain. Setelah itu ia ajarkan kembali lagi di sekolah dengan dua versi: bahasa Wambon Tekamerop dan bahasa Indonesia.
Membantu Warga Menjual Hasil Bumi
Agus memanfaatkan media sosial untuk membantu mempromosikan hasil bumi Kampung Selil yang begitu melimpah. Mulai dari rambutan, durian, manggis, jeruk, sampai karet juga ada. Baginya, Selil adalah ‘surga buah-buahan’. Tidak pakai pupuk, apalagi pestisida, namun buahnya super-super dan rasanya sangat enak. Tanah Selil adalah tanah yang sangat subur.
Agus kemudian membantu memasarkan hasil bumi warga tersebut ke luar kampung memanfaatkan media sosial facebook. Kebetulan di Selil ada BTS Indosat Bakti 4G sehingga bisa internet menggunakan kartu SIM dari provider Indosat dan XL.
Saat ini sedang musim buah durian. Permintaan durian dari luar kampung sangat banyak. Agus bahkan sampai kesulitan melayani pembeli yang banyak. Ia bantu jual sampai di Muting 3. Soal harga diatur dengan yang punya buah.
Hanya saja, fokusnya saat ini adalah mengajar sehingga ia hanya dapat membantu memasarkan buah-buahan pada hari Sabtu dan Minggu saja.
Tak jarang, ia diberikan uang oleh pemilik buah yang sangat berterimakasih atas bantuannya. Namun selalu ditolak olehnya.
“Akhirnya saya sering dapat marah dari orang kampung” katanya sambil tersenyum. Saya terpaksa terima uang pemberian mereka karena menghormati orang tua.
Agus juga sangat aktif mempromosikan tentang berbagai hasil bumi yang ada di Kampung Selil lewat media sosial. Banyak orang akhirnya sedikit tahu tentang Kampung Selil, potensi yang dimiliki dan tidak sedikit pula yang mulai tanya-tanya harga hasil bumi yang berlimpah tersebut.
Pernah juga, ada yang ingin beli durian, setelah dibuat janjian akhirnya titik ketemunya di Divisi 4, ujung sawit. Kalaupun masih ada sisa biasanya warga bawa ke areal perusahaan, jadi pasti habis dan tidak ada yang terbuang.
Warga Kampung Selil sangat terbantu dengan yang Agus lakukan. Ketika ditanya apakah ia tidak bosan mengajar di kampung yang jauh dari keramaian, Agus bilang ia sama sekali tidak bosan.
“saya sangat betah mengajar dan tinggal di Selil”. Penerimaan yang hangat dan penuh kekeluargaan yang bikin Agus betah. Saat ini pikirannya adalah bagaimana kehadirannya di Kampung Selil bisa membawa perubahan, terutama dalam hal pendidikan anak-anak.
Cerita tentang pengabdian dan dedikasi Agus di atas mau menegaskan bahwa kalau guru tugas baik, tentu akan disayang orang kampung.
“Kadang kita belum bertugas sudah pikir macam-macam, nanti di sana makan apa, ada rumah atau tidak, ada listrik atau tidak, ada air bersih atau tidak, warganya ramah atau tidak, dan rupa-rupa kekhawatiran, akhirnya tidak berangkat ke tempat tugas”, kata Agus.
Pendidikan adalah jalan menuju masa depan, apalagi pendidikan dasar yang merupakan pondasi penting dalam pembangunan manusia Papua ke depan. Kalau kualitas Pendidikan dasarnya bagus, sudah barang tentu masa depan anak juga baik. Sekurang-kurangnya anak memiliki berbagai kecakapan dasar seperti bisa membaca, menulis dan menghitung. Ketersediaan guru di kampung-kampung pedalaman menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Cerita tentang Agus ini ibarat nyala lilin yang menyala di kegelapan. Memberi secercah harapan majunya pendidikan di masa mendatang.

