Kampung Matara, Distrik Semangga – Terdapat kisah inspiratif seorang janda tangguh yang mampu mengatasi segala tantangan hidup dengan penuh keberanian. Narasumber kita kali ini adalah Elisabeth Gelambu, seorang mama janda yang tinggal di Kampung Matara dan menjadi panutan bagi masyarakat sekitar.
Elisabeth Gelambu, berusia 43 tahun, telah menjalani perjalanan hidup yang penuh liku sejak kematian suaminya pada tahun 2019. Namun, kegigihan dan semangatnya untuk membesarkan ketiga anaknya tanpa bergantung pada belas kasihan siapapun, termasuk saudara-saudaranya, adalah sebuah contoh nyata keberanian dan ketangguhan.
Dalam wawancara bersama SORAK (Jumat, 23/6), Mama Elis berbagi cerita tentang kebunnya yang menjadi sumber penghidupan bagi dia dan tiga anaknya. Di kebunnya, Mama Elis menanam lombok, tomat, bayam, kacang panjang, sawi, pare, ubi kayu, petatas, serai, lengkuas, kunyit, dan sirih. Dalam setahun ia bisa panen 2 sampai 3 kali tergantung pada kondisi cuaca.
“Saya berusaha menjaga kebun saya dengan baik supaya bisa memberikan hasil yang cukup untuk saya punya keluarga. Meskipun kadang sulit, tetapi saya tidak pernah menyerah,” ujar Mama Elis dengan semangat.
Selain berkebun, mama Elis juga memiliki kegiatan tambahan saat musim udang tiba. Selama musim udang, dia pergi ke pantai untuk mengambil udang halus sebagai bahan baku membuat terasi udang yang menjadi salah satu produk unggulannya. Namun, dia juga membuat terasi dari ikan seperti bulanak dan kuru. Biasanya terasi diproduksi pada bulan November hingga Desember, menjelang musim penghujan tiba.

Mama Elis sudah punya beberapa pelanggan tetap. Biasanya mereka membeli 10-20 kg produk sayuran setiap kali panen. Selain itu, ada juga becak sayur keliling yang membeli sekitar 1 kg sayuran dengan harga Rp 35.000. Mama Elis juga menjual terasi dengan harga Rp. 75.000 per kg, sedangkan terasi dalam bentuk balok yang dibuat dengan cetakan dihargai sebesar Rp 25.000 per balok.
Selain bercocok tanam, Mama Elis juga menghasilkan minyak goreng dari kelapa dan Virgin Coconut Oil (VCO). Animo masyarakat membeli VCO cukup bagus sehingga menguntungkan karena dijual dengan harga Rp 100.000 untuk ukuran botol aqua sedang dan Rp. 25.000 untuk ukuran botol aqua kecil. Sementara itu, minyak goreng dijual seharga Rp 10.000 per botol ukuran sedang dan Rp 5.000 untuk ukuran kecil. Mama Elis mengungkapkan bahwa pengetahuan dan keterampilannya dalam produksi VCO dan minyak goreng ini diperolehnya ketika mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh YASANTO dengan fasilitator Bapak Jago Bukit.
Beraneka jenis tanaman dapat ditanam Mama Elis di kebun miliknya di pekarangan rumah. Saat ini, Mama Elis mulai mengedukasi mama-mama lain di kampung untuk memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan rempah serta rimpang. Dia ingin memberikan pelatihan kepada ibu-ibu di RT I Kampung Matara untuk membuat terasi sendiri. Membuat terasi baginya adalah kegiatan yang tidak sulit karena bahan-bahannya mudah didapat. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada mama-mama di sekitar rumahnya untuk meningkatkan ketrampilan mereka dan meningkatkan penghasilan.
Mama Elis juga berbagi tentang peran penting pendidikan dalam hidupnya. Tiga anaknya bersekolah. Yang sulung akan memasuki perkuliahan di sebuah perguruan tinggi di Merauke. Anak kedua, duduk dibangku kelas 2 SMA dan yang ketiga masih di kelas 3 SD. Mama Elis mengaku bahwa setelah suaminya meninggal sumber inspirasi dan alasan kuat baginya untuk tetap terus berjuang adalah tiga anaknya itu. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan dan keterbatasan, Mama Elis berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi ketiga anaknya. Mama Elis hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMP karena keterbatasan biaya saat itu. Namun, dia berharap anak-anaknya dapat memiliki pendidikan yang lebih baik darinya. Dia yakin bahwa melalui usahanya di kebun, dia akan mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga menyelesaikan perguruan tinggi.
“Anak-anak adalah segalanya bagi saya. Saya ingin mereka memiliki masa depan yang lebih baik daripada yang saya miliki,” kata Mama Elisabeth sambil menarik nafas panjang.
Dengan penghasilan dari kebun dan terasi serta minyak VCO yang dihasilkan olehnya, dia berhasil memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Setiap pagi, jam 4, Mama Elis sudah bangun untuk memulai hari dengan berdoa dan mengucapkan syukur atas berkah yang diberikan Tuhan. Setelah anak-anaknya berangkat ke sekolah, dia pun bergegas ke kebun untuk bekerja.
Elisabeth Gelambu adalah contoh inspiratif seorang janda hebat dan tangguh yang tidak menyerah pada keadaan. Dia berhasil menciptakan kehidupan bagi diri dan tiga anaknya. Ditengah kecendrungan kehidupan dewasa ini yang makin mempertontonkan sikap dan motivasi jalan pintas untuk meraih prestasi, kerja asal jadi daripada mementingkan kualitas, membantu sesama demi pamrih, tidak punya keberanian untuk memilih jalannya sendiri, semaki tidak kreatif dan inovatif, Elisabeth Gelambu malah berenang melawan kecendrungan arus zaman. Kisahnya yang inspiratif ini mengajarkan kepada kita bahwa siapa saja yang menjalani hidupnya dengan kerja keras, disiplin diri, bertanggung jawab, penuh ketulusan dan rasa syukur, mencintai sesama, pasti akan berhasil. Kita diyakinkan oleh Mama Elisabeth Gelambu bahwa mempraktekkan semua nilai tersebut dalam hidupnya masih memiliki masa depan.
