Marsel Kimbuop: Paitua Buah Dari Kampung Selil

Pagi-pagi benar, ketika mentari baru saja menampakkan wajahnya dari jauh terlihat seorang pria paruh baya, berperawakan kekar sudah membersihkan kebunnya. Di lahan miliknya terdapat berbagai macam buah-buahan mulai dari durian, rambutan, manggis, langsat, dan salak. Hampir semua warga Selil mengenalnya. Ia bahkan mendapat julukan “Paitua Buah” karena kalau bercerita denganya topiknya pasti seputar buah-buahan dan ia memang pakarnya buah-buahan di kampung. Berbagai jenis buah-buahan yang ditanam Bapa Marsel ini tumbuh subur tanpa memakai pupuk, apalagi pestisida.

Sepanjang waktu Marsel Kimbuop selalu membersihkan juga merawat buah-buahannya tersebut. Marsel tinggal di Kampung Selil, kampung yang selama ini disebut sebagai “surga buah-buahan”. Kampung Selil terletak di Distrik Ulilin dan berjarak 300-an kilometer dari Kota Merauke. Berbagai bibit buah-buahan yang ada tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah dan kakak iparnya di Kampung Aiwat, Distrik Subur di Kabupaten Boven Digoel.

Mungkin benar kata pepatah ini, “Siapa yang menabur dia akan memanen”. Kalau masa panen tiba, berbagai buah-buahan Bapa Marsel juga berbuah banyak dan sangat enak/manis rasanya. Dalam setahun bisa dua kali panen. Buah-buahan tersebut biasa dipasarkan ke daerah perusahaan di Bia Estate A. Buah-buahan tersebut dimuat dengan ketinting (=perahu kecil yang dapat memuat 3-4 orang) melalui Kali Mill, selanjutnya dibawa dengan Arco hingga batas hutan Divisi 4 BIA Estate A. Durian biasanya dijual per tumpuk antara Rp 50.000 – Rp 100.000, langsat per kilogram Rp 40.000, manggis per kilogram Rp 15.000, salak per plastik berisi 10-15 buah seharga Rp 35.000, sedangkan rambutan dijual per karung 20 Kg seharga Rp 100.000 – Rp 150.000.

Buah durian yang dijual Bapa Marsel (Photo. Agus Wassar)

Menurut cerita Bapa Marsel, kalau durian terjual semua bisa mencapai 50 juta rupiah, itu belum buah-buah yang lain. Hanya saja karena akses jalan yang susah, sehingga tidak semua buah dapat terjual. Satu-satunya jalan keluar masuk Kampung Selil hanya bisa ditempuh menggunakan jalur sungai. Sehingga buah-buahan yang dapat dipasarkan keluar kampung hanya sebagian kecil saja.

Bapa Marsel ini tipe orang pekerja keras. Orang lain masih tidur, dia sudah bangun kasih bersih lingkungan disekitar tanamannya. Beliau juga sangat murah hati. Karena buah yang ada begitu banyak, seringkali Bapa Marsel panggil saudara atau tetangganya untuk ambil buah-buahan dan silahkan dijual kalau memang mau dijual. Keuntungannya ya silahkan ambil.

Bapa Marsel pernah mengatakan, “Tuhan su kasih kita tanah yang subur, jadi bukan hal yang susah untuk kita olah tanah”. Beliau juga berpesan “Kalau kita olah tanah baik dengan baik bisa menghasilkan uang dan bisa sejahtera, tapi kalau jual tanah tidak. Nanti kitorang mau makan apa? cuma namanya manusia maunya enak dan gampang saja, akhirnya jual tanah, itu yang buat jadi pemalas”, lanjut Bapa Marsel.

♥ Agus Wassar | Guru SD, Kampung Selil, Distrik Ulilin

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *