Perjuangan Mama-Mama Papua di Pasar Mindiptanah: Simbol Ketekunan dan Kemandirian

Pasar Mindiptana

Oleh: Robert Meanggi, Merauke 27/2/2025

Pasar di Distrik Mindiptanah, Kabupaten Boven Digoel, tak sekadar ruang jual-beli. Ia adalah ruang perjuangan. Di balik setiap ikatan sayur pakis, tumpukan keladi, dan sisiran pisang, tersimpan kisah ketekunan dan solidaritas mama-mama Papua yang membangun pasar dari bawah, dari tanah, dan dari ketiadaan.

Salah satu saksi dan pemerhati itu adalah Ibu Gresensia Timbiri, warga Kampung Awayanka, lulusan SMA YPPK Petrus Hoeboer. Dalam wawancara pada Kamis, 27 Februari 2025, ia menceritakan kembali perjalanan panjang komunitas perempuan Papua yang menginisiasi lahirnya pasar tradisional di Mindiptanah.

Dari Pasar Kaget ke Gagasan Bersama
“Pasar Mindiptanah itu awalnya bukan pasar dalam arti yang sesungguhnya,” ujar Ibu Gresensia. “Hanya sekumpulan mama-mama yang datang pagi-pagi, gelar jualan di tanah, lalu bubar sebelum jam tujuh pagi.” Mereka menyebutnya pasar kaget—terbentuk begitu saja tanpa tempat yang layak.

Melihat kondisi itu, Ibu Gresensia dan beberapa perempuan lain tergugah. Bersama mitra seperti LP2MA (Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Adat), mereka melakukan riset partisipatif (Participatory Action Research/PAR) dan menggagas pembentukan pasar yang lebih manusiawi. Ide ini bukan lahir dari atas, melainkan dari bawah—dari komunitas itu sendiri.

Membangun dari Nol
Perjalanan tidak mudah. Setelah mencari lokasi yang cocok, pemerintah melalui Dinas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Boven Digoel akhirnya membangun satu unit bangunan pasar pada 2013 di belakang Polsek Mindiptanah, di pinggir Kali Kao. Namun, proyek itu tak berjalan mulus. Sengketa tanah antara pemilik ulayat dan pemerintah membuat bangunan tersebut sempat terbengkalai.

Baru setelah itu, dengan pembangunan dua los berukuran 20 x 40 meter, mama-mama mulai menempati bangunan yang layak. “Tapi banyak mama tetap lebih nyaman berjualan di bawah, duduk sambil anyam noken atau rajut,” kata Gresensia, menggambarkan suasana khas pasar yang lebih dari sekadar transaksi ekonomi.

Komunitas, Kas, dan Solidaritas
Komunitas mama-mama pasar kemudian membentuk struktur organisasi sendiri. Ada ketua, sekretaris, bendahara, dan aturan-aturan internal. Setiap pedagang dikenakan tarif Rp2.000 per meja yang dikumpulkan sebagai kas komunitas untuk perbaikan dan kebutuhan pasar.

Hari pasar diadakan tiga kali seminggu—Senin, Rabu, dan Sabtu—dengan waktu berjualan sangat pagi, mulai pukul 05.00 hingga 06.30 WIT. Pendapatan mama-mama bervariasi, antara Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari, tergantung laku tidaknya barang jualan.

Sayur pakis menjadi komoditas primadona. “Kalau tidak laku, biasanya dibagi-bagikan ke keluarga atau dibawa pulang,” tutur Gresensia. Bahkan, beberapa pembeli dari kota (Tanah Merah) datang memborong hasil kebun dan menjualnya kembali di kota.

Perjuangan Melintasi Kampung dan Sungai
Pasar Mindiptanah tak hanya dihuni oleh warga lokal. Masyarakat dari kampung-kampung sekitar, bahkan dari Distrik Sesnuk dan Kampung Anggamburan, juga datang setiap hari Selasa menggunakan transportasi sungai seperti perahu jonson. Perjalanan memakan waktu 3–4 jam. “Pagi-pagi mereka sudah mulai berangkat supaya jam 10 sudah sampai di pasar,” jelas Gresensia.

Meski pasar kini lebih terorganisir, tantangan tetap ada. Ketika hujan turun, para mama terpaksa berteduh atau menutupi barang dagangan dengan plastik karena belum ada tempat berteduh yang memadai.

Namun di tengah keterbatasan itu, sebuah bentuk solidaritas hidup. Jika satu ibu dapat pesanan besar, ia akan mengajak ibu-ibu lain ikut menyumbang hasil kebun mereka. “Kalau kebun satu orang kurang, mereka saling bantu. Seribu dua ribu, ikat per ikat. Kita kerja sama,” katanya.

Dari Pasar ke Panggung Perubahan
Kehadiran pasar Mindiptanah hari ini adalah simbol kekuatan komunitas perempuan Papua dalam membangun ruang ekonominya sendiri. Mereka tak hanya menjual hasil kebun, tetapi juga menenun kebersamaan, ketekunan, dan kemandirian.
Dari tanah merah Distrik Mindiptanah, suara mama-mama Papua menggema: kami bisa, kami bangun sendiri. Pasar itu bukan sekadar tempat jual beli—ia adalah cermin perjuangan dan perlawanan terhadap ketimpangan.

Catatan: Tulisan ini disusun berdasarkan wawancara langsung dengan Ibu Gresensia Timbiri pada 27 Februari 2025 di Vertenten Center, Cikombong pada Pelatihan Menulis Cerita Warga/Etnografi

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *