Bulan September 1948 menjadi salah satu bulan di mana terjadi salah satu moment sejarah di Indonesia. Ya pada tanggal 8-12 September diadakan pasta olahraga se-Indonesia atau kita kenal dengan Pekan Olahraga Nasional (PON).
Sejak PON I di Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah tersebut hingga saat ini PON telah diselenggarakan di 10 provinsi mulai dari Sumatra sampai Papua. Tahun 2021 yang lalu, ditengah situasi pandemi Covid-19, PON XX dilaksanakan di Provinsi Papua.
Salah satu tempat pelaksanaan PON XX adalah di Kabupaten Merauke dengan salah satu nomor yang dipertandingkan adalah cabor gulat.
Dari tanggal 8-14 Oktober 2021, bertempat di GOR Futsal, Merauke. Tercatat sebanyak 106 atlet gulat dari 15 provinsi berlaga di cabor gulat. Ketika itu, ada total 54 medali yaitu 18 emas, 18 perak dan 18 perunggu yang diperebutkan.
Kegiatan ini berjalan dengan baik dengan Jawa Timur sebagai juara umum.
Dibalik suksesnya pelaksanaan PON XX cabor gulat, ada sosok Rufinus K. Awi. Seorang pemuda, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Merauke. Rufinus bertugas sebagai pengambil gambar untuk mendukung video replay system. Gambar yang diambil Rufinus tersebut secara live dan ditampilkan pada layar besar di atas tribun penonton, sehingga semua yang hadir dapat melihat dengan jelas jalannya pertandingan gulat. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dan mengundang protes dari tim yang bertanding, maka video yang diambil oleh Rufinus ini dapat diputar ulang kembali, sehingga membantu wasit dalam menentukan keputusan akhir.
Awalnya tidak sedikit yang ragu. “Aduh, dia bisa atau tidak ya?” Masalahnya bisa gawat kalau yg ditampilkan di video kurang sesuai dengan harapan pemain, pelatih ataupun wasit yang sangat butuh rekaman tersebut.
Setelah melihat kemampuannya banyak yang memberinya pujian. Hasil videonya bagus, transisi perpindahan gambar juga smooth. Penonton pun bisa melihat aksi-aksi pegulat yang sedang bertanding di layar besar. Dalam beberapa pertandingan sempat ada protes dari tim karena kurang puas dengan keputusan wasit. Setelah melihat video yang ditampilkan, akhirnya tim tersebut puas dan menerima keputusan wasit.
Rufinus belajar foto dan video secara otodidak, tidak ada yang ajari dia. Dia selalu belajar untuk mengasah dirinya dengan bertanya pada orang yang dirasa lebih paham tentang foto dan video atau melihat dan belajar langsung dari internet, termasuk dari YouTube.

