Herman Tanoi: Berniat Kembali Tanam Mangrove di Sekitaran Pantai Wendu

Beberapa waktu lalu (Juni 2020) media SORAK pernah mengabarkan tentang Herman Tanoi, seorang warga dari Kampung Waninggap Nanggo, Distrik Semangga yang menanam mangrove di tepi Pantai Wendu. Usahanya ini mendapat banyak sindiran. Banyak suara-suara sumbang yang bilang kalau percuma tanam mangrove, toh akan mati juga. Apalagi kalau musim angin barat tiba, ombak besar hantam pasti akan tersapu ombak. Ide gilanya menanam mangrove di tepi pantai muncul karena ia prihatin melihat pantai yang makin lama makin bergeser ke arah darat. Setiap tahun daratan terus terkikis.

“Tahun lalu saja antara 7 sampai 12 meter daratan terkikis ombak”, kata Herman.

“Kalau seperti itu terus dan tidak ada upaya untuk menahan laju abrasi, maka tidak lama lagi kami semua yang ada di kampung ini akan ada dalam air laut”, tambahnya. Belum lagi aktivitas penggalian pasir untuk bahan bangunan yang demikian masif beberapa tahun terakhir menambah laju abrasi.

Sebanyak 20 bibit mangrove yang sebelumnya ia semai didarat terlebih dahulu ia tanam di beberapa titik di Pantai Wendu. Ia tanam jenis kayu api-api dan beberapa jenis lainnya. Akarnya sempat keluar dan mulai menjalar dalam tanah.

Herman juga mengamati pergerakan air pasang. Beberapa bibit mangrove yang ia tanam ternyata kuat, tidak mati atau tercabut ketika dihempas ombak. Hal ini menambah semangatnya lagi untuk terus merawat tanaman mangrovenya. Ia juga mempersiapkan bibit yang ia semai di darat. Sebelumnya, ia membuat lubang sedalam kurang lebih 1 meter. Setelah itu diisi lumpur lembek. Lumpur lembek ini kemudian disii lagi dengan abu sisa pembakaran daun-daun kering. Setelah siap baru bibit mangrove mulai di masukan ke dalam sebagai bibit. Setelah dirasa mulai keluar akarnya baru bibit mangrove dipindahkan untuk ditanam di pinggir pantai. Hampir setiap pagi dan sore, Herman angkat air untuk siram tanaman mangrovenya. Menurutnya tanaman mangrove juga butuh air tanah untuk menunjang pertumbuhannya.

Usaha Herman mulai membuahkan hasil. Tanaman mengrovenya mulai bertambah tinggi. Hanya saja Herman merasa usahanya nampak sia-sia ketika ada perlombaan pacuan kuda akhir September 2020. Ternyata mangrovenya terinjak baik oleh kuda maupun oleh penonton yang datang. Tak ada yang tersisa.

Herman Tanoi saat menyirami tanaman mangrove di Wendu

Herman sempat merasa patah arang. Namun ia kemudian berpikir jika tak ada yang memulai usaha tersebut, lantas siapa lagi yang akan menanam mangrove demi menjaga ekosistem pantai. Herman bilang, “kalau saja waktu itu tanaman ini tidak mati, mungkin sekarang mangrove ini diameternya antara 5 – 10 centi meter”.

Herman berniat menanam berbagai jenis mangrove dan tanaman lain seperti kayu api-api, mata buta, kayu paseran, kayu nggatana, dan cemara. “Yang agak sulit mungkin cemara, tapi kalau dia hidup akan sangat bagus, karena cemara ini akarnya menjalar dalam tanah. Kalau ada beberapa pohon cemara, akarnya akan baku ikat sehingga akan memperkuat struktur tanah”, kata Herman. Herman merasa tertantang untuk kembali menanam mangrove dan tanaman sejenis, ia mau usaha sampai berhasil. Yang menikmatinya nanti bukan hanya dirinya atau keluarganya saja tapi semua warga dan demi generasi mendatang.
Adakah yang mau membantu Bpk. Herman Tanoi?

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *