Hutan Hilang: Yimo/Yimoho Hilang Juga

Setiap suku mempunyai nama khusus untuk menyebut uang. Misalnya, orang suku Muyu menyebut uang itu “ot”, orang suku Kei dan suku Toraja menyebut uang itu “seng”, dan lainnya. Sementara orang suku Auyu menyebut uang itu “yimo” atau “yimoho.” Kata ini berasal dari dua kata, yaitu ‘yi‘ = “pohon-pohon” dan ‘mo/moho‘ = “daun-daun.” Jadi, ‘yimo‘ atau ‘yimoho‘ artinya “daun-daun pohon.” Pohon yang dimaksud bukanlah pohon kecil yang menjadi bagian dari semak-semak, tetapi pohon besar yang tingginya melewati manusia.

Secara filosofis orang suku Auyu mengidentikkan daun-daun pohon sebagai uang. Entah mengapa mereka menyebutnya demikian, tetapi konsekuensi dari pemahaman ini ialah kalau pohon-pohon ditebang habis (entah untuk alasan apa pun), maka itu sama dengan “yimo” atau “yimoho” habis. Hutan habis itu bukan membuat mereka menjadi kaya, tetapi mereka justru menjadi miskin, karena “yimo” atau “yimoho” habis.

Sehingga, sebenarnya akan cukup mudah meyakinkan orang suku Auyu untuk memelihara hutan, karena konsep daun-daun pohon identik dengan uang. Mereka percaya kalau hutan habis, maka uang juga habis. Kalau hutan habis, maka bukan menjadi kaya, tetapi justru menjadi miskin. Apalagi kalau orang-orangnya masih sangat tergantung kepada alam, atau masih bermental mengambil segala sesuatu yang dibutuhkan secara gratis dari alam. Kecuali bila manusia-manusianya sudah berkembang ke arah masyarakat sistem produksi budidaya, artinya sudah bermental mengelola hasil hutan untuk meningkatkan taraf hidup, maka ceritanya mungkin akan menjadi sedikit lain.

Walaupun ada falsafah yang bagus, tetapi kadang ada dari antara masyarakat sendiri yang sangat berlebihan minat (tanpa pengertian yang cukup) untuk menjual hutan demi uang. Uang sudah menjadi virus yang merusak otak, sehingga sudah tidak lagi menggunakan sistem-sistem adat yang benar untuk mengatur hutan. Banyak yang berlomba menjadi ketua adat, mengaku-ngaku menjadi pemilik utama hutan adat, dan akhirnya menimbulkan masalah di kalangan mereka sendiri. Kami selalu menasehati mereka bahwa selama kamu tidak menggunakan sistem adat yang sebenarnya, maka hutan ini akan menjadi sumber bencana. Ingat, ketika kamu jual hutan hanya karena uang (tanpa hukum adat yang benar) maka: hutan habis, “yimo” atau “yimoho” habis, uang habis, dan hidup miskin.

♥ Felix Amias MSC | Pastor, Merauke

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *