Kualitas Air Di Kali Maro Terus Memburuk, Mama-Mama Khawatir

Kali Maro di Kampung Kweel, warga khawatir dengan kualitas air yang terus memburuk.

Kampung Kweel, Distrik Elikobel, 18 Juli 2023— Mama-mama dari Kampung Kweel mengungkapkan keprihatinan mereka tentang perubahan drastis yang terjadi pada air Kali Maro, yang menjadi sumber air bersih untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Dalam sebuah diskusi bersama Perkumpulan Petrus Vertenten Papua pada tanggal 18 Juli 2023, mama-mama menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap kondisi air yang semakin lama semakin buruk sehingga sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari.

Menurut mama Oktovina Mekiuw, anak-anak dan warga Kweel telah berhenti mandi di Kali Maro. Ada beberapa kasus yang dialami warga kampung. Kulit mereka gatal-gatal setelah mandi di Kali Maro dan bahkan ada warga yang kulitnya mengelupas dan iritasi.

Mereka mengingat masa lalu ketika air di sungai tersebut sangat jernih. Dulu, ketika pergi mencari ikan, mereka tidak perlu membawa air minum karena dapat langsung mencuci dan minum air dari Kali Maro. “Namun sekarang sudah tidak bisa lagi. Saat ini, ketika pergi ke dusun kami harus membawa air minum dari rumah,“ cerita Egenius Bajai, Ketua Adat Kampung Kweel.

Selain itu, kualitas udang di Kali Maro pun sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Udang yang ditemukan cepat membusuk dan kepalanya rusak. Ini menimbulkan kekhawatiran warga terhadap dampak negatif yang mungkin terjadi pada kesehatan mereka yang masih mengkonsumsi ikan dan udang dari Kali Maro. Warga kampung menduga Kali Maro sudah tercemar limbah kimia. “Jika ada limbah kimia di Kali Maro, maka apakah itu dari perkebunan sawit atau dari tambang emas di PNG?. Kami tidak tahu. Sebaiknya pemerintah datang ambil air Kali Maro ini baru dorang periksa di laboratorium kah?“, tutur Ketua BAMUSKAM Kampung Kweel, Denis Inagijai.

Mama-mama juga merasa bahwa kondisi lingkungan di sekitar Kali Maro telah berubah secara drastis. Dulu, saat musim kemarau tiba, tepian Kali Maro ini dikelilingi dan ditumbuhi oleh berbagai jenis pepohonan hijau yang memberikan keberagaman dan keindahan alam. Namun, sekarang berbagai jenis pepohonan tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Selain itu, ketika air semakin surut, yang terlihat hanya tanah pasir. “Waktu saya masih kecil, sekitar tahun 1970an, saat mandi di Kali kami masih lihat banyak lumut tumbuh subur di dasar Kali. Tetapi sekarang saya perhatikan lumut hamper sudah tidak dapat terlihat lagi”, kata Godefridus Inagijai, Ketua Suku Yei. Perubahan ini diyakini terjadi sejak adanya aktivitas perusahaan perkebunan kelapa sawit di bagian hulu Kali Maro.

Mama-mama mengungkapkan kekhawatiran dan kegelisahan mereka terhadap keberlanjutan hidup mereka karena keadaan Kali Maro. Mereka merasa terancam dengan kondisi air yang terus semakin memburuk, karena kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari semakin sulit di masa depan.

Dalam usaha melawan perubahan ini, mama-mama dan warga Kampung Kweel berencana untuk memperkuat perjuangan mereka dalam menjaga dan merawat sumber air dan lingkungan hidup yang sehat. Mereka berharap mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait serta masyarakat luas untuk tetap terus memeilhara ekosistem di Kali Maro yang selama ini telah menghidupi dan membesarkan mereka.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *