Barangsiapa kreatif dan mau berusaha, maka ia akan menuai hasilnya kelak. Gambaran inilah yang nampaknya terjadi dalam diri mama Yakomina Mugujai. Wanita paruh baya, berusia 70 tahun, dari Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke sudah sejak lama menekuni usaha kerajinan tangan anyam-anyaman. Sudah banyak yang ia hasilkan, mulai dari tas, nyiru, tikar, pembersih meja/lemari, dll. Aktivitas ini ia lakukan setiap hari, sambil bekerja kebun yang ia tanami ubi kayu, petatas, keladi, sayur-sayuran dan beberapa jenis pisang (pisang kapok, nona, tanduk, raja, dan pisang Afrika).
Bahan-bahan untuk anyaman seperti bambu, rotan, rumput rawa, tali genemo (melinjo), diperoleh mama Yakomina dari hutan secara cuma-cuma. Dari bahan baku rotan dan bambu, mama Yakomina bisa membuat keranjang. Untuk membuat noken, dia menggunakan kulit kayu genemo, untuk gelang tangan mama Yakomina menggunakan kulit kayu rahai putih, daun pandan untuk membuat tikar, serta masih banyak bahan lainnya yang bisa diambil dari hutan. Ia dibantu oleh suaminya mengambil bahan-bahan tersebut dari hutan. Tak jarang untuk mengambil bahan-bahan tersebut suaminya biasa pergi ke hutan, dayung perahu, dari pagi sampai sore, bahkan tak jarang sampai menginap di hutan. Suaminya yang memotong serta membersihkan kayu, bambu, atau rotan.

Hasil kerajinan tangan yang dibuat mama Yakomina dijual di kampung saja, dan juga kalau ada tamu dari kota yang berkunjung ke kampung. Ia tidak menjual hasil kerajinan tangannya di kota Merauke. Hal ini menjadi salah satu persoalan yang menjadi kendalanya selama ini. Sebab, ia belum tau mau menjual anyaman yang dihasilkannya kepada siapa dan dimana.
Hasil kerajinan tangannya biasa dijual dengan harga Rp 50.000 di Kampung Tanas, menurutnya kalau dijual di kota, harganya pasti beda, bisa lebih mahal. Ia juga mulai menggunakan benang yang ia beli sendiri seharga Rp 50.000 – Rp 200.000 untuk membuat noken atau tas kecil untuk menyimpan HP.
Ia juga khawatir, jika hutannya hilang, maka ia juga akan kehilangan sumber mata pencaharian, mengingat aktivitas deferostasi hutan yang tak jauh dari kampungnya akibat beroperasinya perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil membuat berbagai kerajinan ini, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya. Salah seorang anaknya bahkan telah menamatkan pendidikan sekolah guru dan saat ini kembali mengabdi sebagai Guru di SD YPK Tanas.
