Musim kemarau yang melanda sejak Juli hingga Agustus tahun ini telah menimbulkan ancaman serius terhadap ketersediaan air dan kebun warga di Kampung Buepe, Distrik Kaptel dan Kampung Zanegi, Distrik Animha serta Kampung Kweel, Bupul dan Tanas di Distrik Eligobel. Kekeringan ini telah menghambat usaha warga dalam mengelola lahan pertanian mereka, akibat kurangnya pasokan air untuk menyiram tanaman mereka.
Saat berkunjung ke Kampung Buepe, Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua menemui Ibu Yulyana Boyen, seorang warga setempat. Ibu Yulyana menggambarkan tantangan yang sedang dihadapi oleh warga kampung. “Bagaimana mau menyiram tanaman, sedangkan untuk minum saja sudah sulit,” keluh Ibu Yulyana. Dia menjelaskan bahwa satu-satunya sumur di kampung airnya keruh sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

Keadaan yang serupa juga terjadi juga di Kampung Zanegi. Bapak Bonefasius Gebze mengungkapkan kesulitannya mendapatkan pasokan air yang cukup untuk menyiram tanaman. “Saya butuh selang dan alat penyiram tanaman (gembor) untuk menjaga tanaman supaya tetap hidup,” ujar Bapak Bonefasius.

“Kalau air tidak ada, saya punya tanaman ini bisa mati. Saya butuh selang air dan gembor untuk siram tanaman, supaya mereka bisa terus hidup”
– Bonefasius Gebze, Warga Kampung Zanegi-
Kesulitan air juga dialami oleh warga di Kampung Kweel, Bupul dan Tanas. Ibu Fransina Keijai mengatakan bahwa sekarang ini dirinya tidak bisa menyiram tanamannya karena ketersediaan air makin terbatas. Situasi ini juga dialami Ibu Farida di Kampung Tanas. Dia dan suaminya Cornelis sudah membuat bedeng-bedeng di kebun mereka untuk menanam sayur. Namun, mereka kesulitan air untuk menyiramnya. “saya dan bapa sudah bikin bedeng. Kami mau tanam sayur. Tapi tidak ada air”, keluh Ibu Farida. Di Tanas ada bak penampung tapi mesin air rusak.

Di Zanegi, terdapat waduk penampung air yang sebelumnya memainkan peran penting dalam penyediaan air bagi lahan pertanian. Namun, waduk tersebut kini mengalami penurunan debit air yang signifikan, dengan jarak sekitar 100 meter dari lahan pertanian. Kekeringan juga telah memengaruhi pasokan air minum bagi warga Zanegi, yang saat ini mengandalkan sumur bor yang disediakan oleh pemerintah.
Di Kampung Bupul ada instalasi air yang cukup modern yang dibangun oleh pemerintah. Namun, sayangnya instalasi itu sudah tidak berfungsi lagi. Saat Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua berada disana rumah air itu nampaknya tidak terurus lagi dan sudah ditumbuhi rumput liar.
Selain masalah ketersediaan air, musim kemarau saat ini mengakibatkan kekeringan yang juga telah memicu kebakaran lahan dan hutan di berbagai dusun serta sekitar kampung-kampung dibeberapa wilayah tersebut. Kondisi ini semakin memperburuk situasidan kondisi warga kampung, mengancam tidak hanya hasil panen tetapi juga lingkungan sekitar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, akan muncul ancaman potensial yakni kelangkaan pangan, terutama pangan lokal yang biasa diperoleh warga dari hutan dusun mereka. Kelangkaan pangan yang jika tidak ditangani segera dapat menjadi krisis pangan yang berdampak serius terhadap keberlangsungan hidup masyarakat setempat. Pemerintah daerah dan lembaga terkait diminta untuk segera mengambil tindakan darurat guna mengatasi dampak buruk dari musim kemarau ini. Langkah-langkah seperti penyediaan pasokan air bersih yang memadai serta bantuan alat penyiraman tanaman diharapkan dapat membantu warga melewati masa sulit ini. Selain itu, upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan juga menjadi prioritas dalam rangka mengurangi risiko lebih lanjut.
