Semangat Muda Tete Bernadus, Petani Tua yang Tak Kenal Lelah Berkebun

Muting, 21 Agustus 2025 – Di Kampung Muting, Distrik Muting, Kabupaten Merauke, tepatnya di RT 03, tinggal seorang tete bernama Bernadus Kakudaman, yang meskipun usianya sudah tergolong lanjut (74), semangatnya untuk berkebun masih menggebu-gebu. Tete Bernadus ini suku Muyu, salah satu kelompok adat yang dikenal gemar bercocok tanam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Sekitar satu bulan silam, saat sedang bekerja mendampingi kelompok ibu-ibu di kampung ini, saya melihat pemandangan yang menggetarkan hati. Tete Bernadus tampak memikul bambu besar dan kayu buah dengan jarak cukup jauh dari pelabuhan menuju rumahnya. Meski berat, ia tak pernah menunjukkan tanda-tanda lelah atau menyerah. Sayang, saat itu saya sedang sibuk bekerja sehingga tak sempat membantu beliau, walau hati saya tergerak untuk melakukannya.

Seiring berjalannya waktu, tete Bernadus beberapa kali datang ke rumah ketua kelompok, namun saya lupa untuk menanyakan kisah lengkapnya. Hingga pada Rabu, 20 Agustus 2025, saya mendapatkan cerita dari ketua kelompok bahwa tete Bernadus sedang membuat pagar kebun untuk menanam sayur. Penasaran dan ingin membuktikan, saya pun bergegas mengunjungi rumahnya.

Sesampainya di sana, saya melihat langsung beliau tengah membersihkan rumput liar di kebunnya. Di lahan itu, ada dua hingga tiga bedengan yang sudah dibuat dan ditanami batang singkong. Namun, sebagian besar tanah masih dipenuhi rumput lebat yang perlu dibersihkan lebih lanjut. Melihat kerja kerasnya, saya tergerak untuk membantu. Saya berjanji akan mencari traktor dan operator untuk membantu membajak lahannya agar lebih produktif.

Tete Bernadus menanggapi dengan sabar, mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan pembersihan terlebih dahulu. “Anak, saya memang sudah tua, tapi saya punya semangat untuk berkebun,” ujar Bernadus dengan penuh keyakinan. Ia menjelaskan bahwa sebagai orang Muyu, bercocok tanam adalah bagian dari kehidupan turun-temurun. “Orang tua kami dulu berkebun untuk memberi makan dan membiayai sekolah kami, jadi kami sudah terbiasa sejak kecil.”

Cerita ini saya bagikan bukan hanya sebagai pengingat bahwa semangat tidak mengenal usia, tapi juga untuk menginspirasi generasi muda agar memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk bercocok tanam. Jika tete Bernadus dengan segala keterbatasan fisiknya bisa berusaha keras, kita pun seharusnya bisa mulai memelihara alam dan menjaga ketahanan pangan dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Oleh: Robert Meanggi

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *