Diklat Pangan dan Pertanian Dukung Ketahanan Pangan di Kampung

Merauke, 24 April 2024 – Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua dengan dukungan dari PACKARD Foundation telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) Pangan dan Pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan pekarangan guna menjaga ketahanan pangan masyarakat lokal setempat.

Sebanyak 21 peserta dari Kampung Zanegi, Buepe, dan Senayu berpartisipasi dalam diklat ini. Peserta yang diutus oleh pemerintah kampung berusia antara 17 hingga 40 tahun. Diklat yang berlangsung di Kampus Petrus Vertenten MSC Center dari tanggal 16 sampai 23 April 2024, peserta mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan teknis mendalam tentang pertanian organik, pengolahan ikan gastor, pupuk organik cair dan padat, pakan ternak, pembuatan komposter, hama dan penyakit tanaman, serta teknik pengairan. Untuk mendampingi para peserta Diklat, Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua bekerjasama dengan 8 akdemisi dan praktisi dari Politeknik Yayasan Santo Antonius (Yasanto), Merauke.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan ini dibuka oleh Superior Daerah MSC Papua, Pastor Sulvisius Joni Astanto MSC, dengan pesan yang menginspirasi. “Ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini diharapkan dapat diaplikasikan secara nyata di kampung masing-masing. Meskipun hutan dan dusun mulai habis akibat aktivitas perusahaan namun, masih ada lahan pekarangan yang dapat dikelola. Kegiatan ini penting untuk menjaga ketahanan pangan keluarga,” kata Pastor Joni Astanto.

Fasilitator dalam kegiatan ini adalah Ibu Puji Astuti dan Tim dari Politeknik Yasanto, Merauke. Ibu Puji dan tim dari Politeknik Yasanto tidak hanya menyampaikan materi di dalam kelas, tetapi juga memfasilitasi sesi praktek lapangan untuk memastikan pemahaman yang mendalam oleh peserta. Menurut Ibu Puji Astuti bahwa belajar teori di dalam kelas hanya sekitar 30%, selebihnya 70% para peserta langsung praktek di lahan kebun. 

Ibu Puji Astuti – Dosen Politeknik Yasanto, Fasilitator Diklat Pertanian

Dalam kegiatan ini, peserta dari masing-masing kampung diminta untuk menghitung pengeluaran belanja keluarga per bulan. Hasilnya didapatkan dalam sebulan setiap keluarga rata-rata menghabiskan antara Rp 3.500.00 – Rp 7.000.000. Dari jumlah tersebut diketahui bahwa belanja pangan paling tinggi (52%) dari total belanja keluarga. Para peserta mengaku bahwa beras, lauk-pauk dan sayur yang paling sering dibelanjakan setiap hari. Belanja lainnya seperti belanja energi, pendidikan, kesehatan, rekreasi dan sosial lebih kecil daripada belanja pangan. Saat hasil perhitungan belanja rumah tangga dipresentasikan, para peserta mengaku kaget karena sebelumnya mereka tidak pernah menghitung pengeluaran belanja rumah tangga selama sebulan. Dan mereka lebih kaget lagi, ternyata pengeluaran mereka cukup besar dan yang paling besar adalah belanja kebutuhan untuk pangan keluarga. Misalnya beberapa peserta dari Kampung Zanegi mengaku bahwa mereka selama ini bekerja sebagai tenaga pengumpul leles – kayu-kayu sisa — di areal perusahaan. Kayu-kayu sisa tersebut jika dijual harganya Rp 85.000 per kubik. Peserta lain dari Kampung Bu Epe setiap hari ke hutan untuk berburu binatang atau menangkap ikan untuk dimakan sendiri dan dijual kepada para penadah di kampung.

Berdasarkan perhitungan tersebut, peserta kemudian diajak untuk lebih mengolah lahan pekarangan rumah dengan menanam berbagai tanaman pangan yang dapat membantu menekan pengeluaran belanja keluarga per bulan. Para peserta diajak untuk bekerja keras dan tekun memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam berbagai jenis tanaman untuk menjaga ketahan pangan keluarga.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengembangan Tanaman Pangan Lokal yang dilaksanakan di tiga kampung: Zanegi, Buepe, dan Senayu dengan tujuan yaitu: “Mewujudkan Kampung-Kampung Lokal Papua Menjadi “Ruang Kehidupan” Yang “Layak” Serta “Bermartabat” Dan “Berdaulat” Dalam Pengelolaan & Pemanfaatan Pangan Lokal”.

Susana Gebze, salah satu peserta dari Kampung Zanegi, mengungkapkan kegembiraannya dapat ikut serta dalam kegiatan Pendidikan Pangan dan Pertanian yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua. Sebagai seorang petani lokal, Susana telah aktif berkebun di kampungnya, namun dirinya merasa masih kurang pengetahuan dan ketrampilan.

“Saya sangat senang bisa ikut kegiatan ini. Sebelumnya, saya sudah berkebun di kampung, tapi setelah ikut kegiatan ini, pengetahuan dan keterampilan saya tentang pertanian semakin bertambah banyak”

– Susana Gebze, peserta dari Kampung Zanegi

Dalam kegiatan ini, peserta juga belajar mengenai berbagai jenis tanaman harian, mingguan, bulanan, dan tahunan, serta bagaimana menanamnya di pekarangan mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk selalu memanfaatkan beragam jenis tanaman tersebut setiap saat.

Selain itu, peserta juga diajarkan cara mengukur pH tanah menggunakan alat sederhana yang telah disiapkan oleh fasilitator. Alat ini cukup efektif karena dengan melihat angka yang muncul pada alat tersebut peserta dapat mengetahui unsur hara dalam tanah yang akan dikelola. Beberapa peserta bahkan berkelakar, “wah kitorang tidak perlu PPL lagi, karena kitorang ini bisa belajar pakai alat untuk lihat pH tanah, dan dapat banyak sekali ilmu di sini”.

Setiap malam selepas jam makan malam, ada pemutaran film tentang pemanfaatan lahan pekarangan, teknologi pertanian, dan film dokumenter mengenai benih, lingkungan hidup.

Di hari terakhir, peserta mendapat penguatan dengan materi yang dibawakan oleh Harry Woersok, Direktur Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua tentang Paham Melanesia tentang Manusia dan Tanah. Di mana ada empat (4) nilai mendasar bagi orang Melanesia: (1) Hidup berlimpah, (2) Komunitas, (3) Relasi, dan (4) Resiprositas.

HIDUP orang Melanesia selalu berkelimpahan dan itu dialami hanya dalam KOMUNITAS yang dipelihara melalui RELASI yang benar, bukan RELASI yang eksploitatif dan eksploitatif. RELASI yang besar itu dimulai dan diteguhkan melalui RESIPROSITAS, saling memberi dan menerima. Inilah empat nilai budaya Melanesia yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup atau sebagai kriteria untuk membuat penilaian terhadap sesuatu hal.

Di akhir kegiatan, peserta menyusun kesepakatan bersama mengenai Rencana Tindak Lanjut (RTL) apa yang akan mereka lakukan selama masa praktek/kerja lapangan selama 3 bulan di kampung masing-masing setelah Diklat berakhir. Para peserta bersepakat untuk sekembalinya dari kegiatan Diklat akan membuat kebun di pekarangan rumah mereka masing-masing dengan menanam berbagai jenis sayuran. Satu tim yang terdiri dari Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua dan Dosen Politeknik Yasanto akan melakukan kunjungan secara rutin ke tiga kampung untuk memastikan program ini dapat terlaksana dengan baik.

Setelah kegiatan Diklat ditutup secara resmi oleh Superior MSC Daerah Papua, para peserta diberikan bantuan peralatan pertanian berupa cangkul dan berbagai bibit sayuran seperti terong, sawi, pare, kacang panjang, bayam, tomat, jagung manis, komposter, gembor serta eco-enzym yang dibuat para peserta selama berlangsungnya kegiatan Diklat.

Peserta foto bersama Pastor Joni Astanto dan Direktur Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua usai kegiatan Diklat

Kegiatan ini memberikan landasan yang kuat bagi peserta untuk mengelola, mengolah dan memanfaatkan lahan pekarangan rumah mereka dengan bijak, serta meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Dengan bantuan peralatan pertanian dan pengetahuan sefrta ketrampilan yang telah diperoleh selama Diklat, mereka siap untuk menerapkan praktik-praktik pertanian berkelanjutan yang telah dipelajari, menjadikan kampung mereka semakin mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan lokal, terutama bagi keluarga mereka sendiri.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *