Ikut Pelatihan Pembuatan Kerupuk Sagu Pisang, Mama-Mama Senang

Merauke, Dari tanggal 25 – 29 Oktober 2022, sebanyak 20 mama-mama perwakilan dari Kampung Tanas, Bupul, Kwell, Erambu dan Toray mengikuti Pelatihan Pembuatan Kerupuk Sagu Pisang di MSC Center, Jalan Cigombong Merauke.
Kegiatan ini merupakan program Caritas KAMe dan Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua bekerjasama dengan Econusa.
Sebelum kegiatan diawali dengan misa yang dipimpin oleh Pastor Joni Astanto, MSC.
Kegiatan dilanjutkan dengan materi seputar sagu, manfaat sagu, kandungan yang ada dalam sagu, dan sebagainya. Pemberi materi adalah Beatrix Gebze dari Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua. Setelah itu, peserta membuat sketsa potensi sumber daya alam masing-masing kampung untuk melihat sejauh mana sumber daya alam yang ada, termasuk hutan/dusun sagu di komunitas dan hutan masing-masing kampung. Mama-mama juga melakukan analisis SWOT untuk dapat melihat kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman yang ada. Berangkat dari analisis SWOT tersebut harapannya mama-mama makin mengenali lingkungan komunitas dan kampungnya masing-masing. Pada sesi ini, peserta didorong untuk menjadi kritis dan tanggap melihat situasi dan kondisi sosial.

Mama-mama mengikuti proses pembuatan kerupuk sagu pisang dengan serius

Hari berikutnya, tanggal 26 – 28 peserta praktek membuat kerupuk sagu pisang. Adapun bahan utama untuk membuat kerupuk ini adalah sagu dan pisang yang dapat diperoleh di sekitar kampung. Dalam pelatihan ini menggunakan sagu merah (nama sagunya menggidtop) yang diproduksi oleh kelompok mama-mama dari Kampung Aiwat, Distrik Subur, Kabupaten Boven Digoel. Proses pembuatan kerupuk sagu pisang ini bahan-bahan utama diblender, direbus, kemudian di jemur di panas matahari langsung, setelah kering dapat langsung digoreng dan dikonsumsi.

Salah satu peserta, Mama Silva dari Kampung Toray mengaku senang ikut kegiatan ini, karena ternyata kerupuk sagu pisang ini bahkan tidak terasa sagu dan pisang yang kuat. Rasanya cukup enak dan gurih. Ia dan beberapa peserta lainnya bahkan berencana akan mengembangkan kerupuk sagu pisang ini untuk dijual di Kawasan Wisata di Kampung Toray.

Pun dengan mama-mama dari kampung lain, mereka mengaku senang dan berharap kegiatan pelatihan seperti ini dapat dilanjutkan masa-masa mendatang. Kerupuk ini modelnya mirip seperti kerupuk opak ubi, tapi kali ini bahan dasarnya dari sagu dan pisang. Jadi bisa dijual di sekolah atau di kios-kios yang ada di kampung.

Hari terakhir, Sabtu (29/10) peserta mendapat materi tentang “Perempuan Papua Pu HAM” yang dibawakan oleh Tri Kanem, seorang aktivis perempuan Papua yang saat ini sedang menyelesaikan studi Doktornya di Selandia Baru. Sebelum pulang, kegiatan ditutup dengan misa bersama dipimpin oleh Pastor Felix Amias, MSC.

♥ Beatrix Gebze | Pegiat ORNOP, Merauke

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *