Pasca Banjir, Masyarakat Bupul Hadapi Berbagai Masalah

Kampung Bupul – Sudah dua hari terakhir, sejak Minggu (12/5), banjir di sekitar Kampung Bupul mulai surut. Namun, hal ini tidak berarti bahwa masalah yang dialami warga juga berkurang. SORAK mencatat sejumlah persoalan yang dialami warga pasca banjir.

Hampir semua sumur milik warga di Kampung Bupul dan Kweel terendam banjir, terutama sumur-sumur yang terletak dekat dengan pohon sagu. Di Bupul, sumur milik Mama Martha Wonijai dan Mama Everista Dambujai terendam air. Di Kweel, sumur milik Bapak Denis Inagijai juga mengalami hal yang sama. Warga di kedua kampung tersebut tidak lagi dapat mengkonsumsi air bersih dari sumur-sumur tersebut.

Di Kampung Bupul, untuk kebutuhan air minum, warga membeli air galon dari Pastor Paroki Bupul dan memanfaatkan sumur bor yang dibangun menggunakan dana kampung di beberapa titik. Sementara di Kampung Kweel, warga mengambil air dari ceruk galian tak jauh dari kampung atau dari belakang kampung sebelah Kali Maro.

Meskipun demikian, situasi ini tetap menyulitkan warga. Denis Inagijai dari Kampung Kweel mengatakan bahwa ia harus menguras air sumurnya terlebih dahulu sebelum digunakan, karena khawatir air tersebut terkontaminasi zat-zat kimia yang dapat berpengaruh pada kesehatan warga. Hal yang sama dirasakan warga di Kampung Bupul yang juga takut jika mengkonsumsi air dari sumur mereka akan terkena penyakit.

Kami juga mendapati beberapa warga yang mengeluhkan anak-anak mereka yang mengalami gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Billy Metemko, warga Kampung Bupul, menyampaikan bahwa anaknya yang berusia 2 tahun mengalami bintik-bintik di sekujur tubuhnya setelah mandi di sumur yang terendam banjir di belakang rumahnya. Anaknya juga mengalami demam tinggi.

“Sa pu anak ini, setelah main di dekat sumur langsung malam itu badannya panas tinggi. Tidak lama kemudian muncul bintik-bintik berair di badannya.”

– Billy Metemko, Warga Kampung Bupul

Selain persoalan air bersih, warga juga khawatir karena beberapa kali mendapati ular masuk ke dalam rumah. Hal ini dialami oleh Bapak Yosias Mugujai. “Anak-anak ada tangkap ular Black Papua di rumah.” Banjir kali ini membuat warga cemas karena ular dari hulu Sungai Maro turun sampai ke kampung. Ular ini termasuk ular berbisa yang berbahaya jika mengigit manusia.

Bapak Yosias juga menceritakan bahwa banjir tidak hanya menenggelamkan rumahnya, namun juga kuburan menantu dan cucunya yang terletak tak jauh dari rumahnya. Ia pun pasrah dan mengungsi ke rumah anaknya yang bersebelahan dengan rumahnya.

Banjir mulai surut, nampak rumah Bapak Yosias Mugujai

“Hari Minggu pagi, Bapa kaget bangun, air su masuk ke dalam rumah. Bapa langsung menyimpan tikar-tikar dan langsung keluar,” katanya. “Bapa cuma selamatkan ijazah, surat-surat, dan beberapa barang berharga, selebihnya bapa kasih tinggal dalam rumah,” tambahnya. Dua hari kemudian, air naik sampai mendekati atap rumahnya. “Barang-barang dapur hanyut ke dalam kali, air su bawa.”

Warga melintasi genangan air di Geiyuwalter

Pasca banjir, beberapa warga melihat kemunculan buaya di GEIYUWALTER (pengguna jalan Trans Papua biasanya menyebutnya BIM, salah satu titik terparah banjir dekat Kampung Bupul). Albertus Mugujai mengatakan bahwa warga khawatir buaya tersebut akan menyerang, terutama anak-anak yang senang bermain di air saat banjir. Munculnya buaya ini diduga akibat rusaknya habitat asli mereka karena banjir dan aktivitas perkebunan kelapa sawit yang tidak jauh dari kampung. Albertus berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan pihak perusahaan untuk membantu warga kampung, karena pasca banjir masih banyak masalah lain yang mengancam.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *