Sabtu malam, 1 Oktober 2022 adalah malam kelam bagi dunia sepakbola Indonesia. Dilansir dari situs tempo.co pada (2/10) sebanyak 125 orang meninggal dunia, dan ratusan lainnya luka-luka. Hal ini merupakan insiden yang paling mematikan kedua dalam sejarah sepakbola. Tragedi terbesar adalah Estadio Nacional Disaster di Lima, Peru, dalam laga Peru melawan Argentina tahun 1964. Tecatat 328 orang meninggal dunia.
Pemimpin Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus pun turut mendoakan korban yang meninggal dan terluka akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan usai laga Arema melawan Persebaya.
Paus Fransiskus memanjatkan doanya dari balik jendela di Vatikan, Roma, pada hari Minggu (2/10).
“Saya berdoa untuk mereka yang telah kehilangan nyawa mereka dan untuk yang terluka setelah bentrokan yang meletus selama pertandingan sepak bola di Malang, Indonesia.” ujar Paus Fransiskus, seperti dilansir Vatican News.

Tragedi ini dimulai setelah peluit panjang ditiup wasit, usai tim tuan rumah Arema FC kalah 2-3 dari tamunya Persebaya.
Sejumlah pendukung Arema turun dari tribun penonton ke tengah lapangan. Karena situasi makin kacau dan makin banyak suporter dalam lapangan, kepolisian sempat menghadang penonton, kemudian menembakkan gas air mata. Gas air mata yang ditembakkan tersebut rupanya tidak hanya diarahkan ke tengah lapangan, namun juga ke arah tribun penonton. Situasi ini membuat penonton makin panik dan berusaha keluar stadion dengan berdesak-desakan. Banyak suporter yang terinjak-injak, tertindis, hingga sesak napas dan akhirnya banyak yang meninggal dunia.
