Kampung Bupul, 7 Mei 2024 – Warga yang tinggal di Kampung Bupul – sebuah kampung yang terletak di pinggir jalan Trans Papua, saat ini dihantui oleh ancaman banjir. Pasifikus Anggojai, salah satu warga Bupul, menyampaikan kekhawatirannya atas situasi yang semakin memburuk.
Sejak Minggu, 5 Mei 2024, debit air Sungai Maro terus naik dengan cepat. Pasifikus mencatat, setiap 5 menit air naik 1 cm, dan belum nampak akan segera surut. Hal ini mengejutkan, mengingat sebelumnya Kampung Bupul tak pernah digempur banjir, sekalipun curah hujan tinggi.
Menurut Pasifikus, banjir kali ini bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, namun juga akibat hutan di sekitar Kampung Bupul yang telah ditebang secara masif. Akibatnya, tidak ada penahan air secara alami lagi. Pasifikus menyampaikan bahwa air yang masuk ke rumahnya berwarna merah, bukan bening. Ia menduga air yang berwarna merah ini akibat dari tanah yang telah terbuka di bagian atas.
Jalan Trans Papua saat ini tergenang air sepanjang kurang lebih 300 meter, dari arah jembatan hingga batas hutan-hutan. Banyak kendaraan terjebak, baik yang dari kota maupun yang dari kampung hendak ke arah kota. Kendaraan yang bisa tembus adalah jenis truck dan double gardan (4×4), itupun air masuk ke mesin.
Tiga rumah, termasuk milik Pasifikus Anggojai sendiri, serta rumah Yosias, dan Marthen Sikaujai juga terkena dampak bajir ini. Mereka telah mengungsi ke rumah keluarga lain, sementara Pasifikus masih bertahan di rumah dengan pindah ke lantai dua. Namun ia juga was-was karena air terus naik.
“Sampai saat ini belum ada dari pihak manapun datang untuk bertanya bagaimana keadaan kami di Bupul. Mungkin tunggu satu kampung tenggelam dulu baru ada perhatian”, kata Pasifikus menutup pembicaraan.
